All notes

Biografi · · 1 min read

Hedy Lamarr: Bintang Hollywood yang Ikut Mematenkan Cikal Bakal Teknologi Nirkabel

Dijuluki wanita tercantik di dunia oleh bos studio film, Hedy Lamarr diam-diam juga mikirin cara bikin torpedo nggak bisa diacak musuh. Ini kisah paten frequency hopping 1942, penolakan Angkatan Laut AS, pengakuan yang telat puluhan tahun, dan kenapa julukan "penemu Wi-Fi" perlu diluruskan.

  • Hedy Lamarr
  • Frequency Hopping
  • Sejarah Teknologi
  • Perempuan dalam Sains
Foto promosi Hedy Lamarr untuk film The Heavenly Body (1944)
Hedy Lamarr dalam foto promosi film The Heavenly Body (1944). Sumber: Wikimedia Commons.Wikimedia Commons (foto promosi MGM, 1944) · Lihat halaman file di Wikimedia Commons: File:Hedy_Lamarr_Publicity_Photo_for_The_Heavenly_Body_1944.jpg

Bayangin kamu lagi di sebuah pesta tahun 1940. Di satu sisi ada komposer avant-garde yang hobi ngomongin piano otomatis. Di sisi lain ada aktris yang dijuluki bos studio filmnya sebagai wanita tercantik di dunia. Obrolan mereka? Bukan soal film, tapi soal torpedo.

Kedengarannya kayak premis film yang ditolak produser karena "terlalu nggak masuk akal". Tapi ini tercatat di arsip paten Amerika Serikat. Si aktris itu Hedy Lamarr, si komposer George Antheil, dan hasil obrolan mereka adalah ide yang puluhan tahun kemudian dianggap sebagai cikal bakal banyak teknologi komunikasi nirkabel (tanpa kabel).

Advertisement

Tapi sebelum soal torpedo, kita mulai dari awal. Karena jalan hidup Hedy sebelum sampai ke pesta itu sendiri sudah cukup dramatis.

Gadis Wina yang jadi bintang di usia 18

Hedy lahir dengan nama Hedwig Eva Maria Kiesler di Wina, Austria, dari keluarga Yahudi yang berada. Tanggal lahirnya umumnya ditulis 9 November 1914. Ada sumber yang menulis 1913, jadi kalau kamu ketemu dua versi, bukan kamu yang salah baca.

Waktu remaja, dia belajar akting di Berlin. Di usia 18 dia jadi sorotan internasional lewat film Ceko berjudul Ecstasy (1933). Film ini kontroversial karena adegan ketelanjangan: Hitler melarangnya diputar di Jerman, sementara Paus dan Catholic Legion of Decency (lembaga sensor film Katolik di Amerika) mengecamnya.

Pernikahan pertamanya adalah dengan Fritz Mandl, pengusaha pembuat senjata dari Berlin. Lewat suaminya, Hedy sering hadir di pertemuan dengan para pengembang, pembuat, dan pembeli senjata. Seberapa banyak yang menempel di kepalanya waktu itu, kita nggak tahu pasti. Yang jelas, dia ada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang bicara teknologi militer.

Pernikahan itu berakhir pada 1937 dan Hedy meninggalkan Mandl serta negaranya. Cara kaburnya punya beberapa versi. Di autobiografinya dia bilang menyamar jadi pembantunya lalu kabur ke Paris. Versi lain bilang dia membujuk Mandl supaya boleh memakai perhiasannya ke sebuah pesta makan malam, lalu menghilang. Sejarah kadang memang punya lebih dari satu draft.

Dari London ke Hollywood, lewat tawar-menawar

Di London tahun 1937, Hedy bertemu Louis B. Mayer, bos studio MGM. Mayer menawarkan kontrak 125 dolar per minggu, dan Hedy menolak. Tapi dia justru memesan tiket di kapal laut yang sama dengan Mayer menuju New York. Hasilnya, dia berhasil mengantongi kontrak 500 dolar per minggu. Mayer juga yang memintanya ganti nama jadi Hedy Lamarr. Dia tiba di Hollywood pada 1938.

Kalau kamu pernah nego gaji dan merasa deg-degan, ingat saja: perempuan ini nego sambil berada di tengah laut.

Di Hollywood dia main di banyak film, termasuk Samson and Delilah. Tapi di balik label "bintang cantik", ada sisi lain yang jarang masuk poster film, dan sisi itu baru kelihatan beberapa tahun kemudian.

Pesta 1940 dan ide yang kedengarannya aneh

Di sebuah pesta tahun 1940, Hedy bertemu George Antheil, musisi avant-garde yang pernah membuat komposisi dengan banyak piano otomatis yang dimainkan serempak. Hedy melempar ide: bagaimana kalau torpedo yang dikendalikan lewat radio bisa dibuat nggak bisa diganggu musuh?

Sebelum lanjut, kita bedah masalahnya dulu, karena istilahnya kedengaran rumit padahal konsepnya sederhana.

Masalahnya. Torpedo jenis ini dikendalikan lewat sinyal radio dari kapal atau pesawat. Radio bekerja di satu frekuensi tertentu, mirip stasiun radio yang punya angka sendiri di dial. Kalau musuh tahu frekuensinya, dia tinggal memancarkan sinyal sampah di frekuensi yang sama. Itu namanya jamming: sinyal pengendalinya tenggelam dalam gangguan, dan torpedo kehilangan arah.

Idenya. Gimana kalau frekuensinya nggak diam? Pemancar dan penerima sama-sama loncat dari satu frekuensi ke frekuensi lain dengan cepat, dalam urutan yang tampak acak. Orang yang menguping cuma mendengar derau, dan peng-jam nggak bisa menebak frekuensi berikutnya. Teknik ini disebut frequency hopping (loncat frekuensi). Sistem seperti ini memang bikin penyadapan dan pengacauan jadi jauh lebih sulit.

Tapi ada tantangan: pemancar dan penerima harus loncat bersamaan tanpa meleset sedetik pun. Di sinilah Antheil masuk. Dia mengusulkan mekanisme sinkronisasi yang cara kerjanya mirip gulungan kertas pada piano otomatis (player piano). Sistemnya memakai 88 frekuensi, sama dengan jumlah tuts piano. Jadi kalau tadi kamu bertanya kenapa komposer ikut campur urusan torpedo, jawabannya: dia yang punya solusi untuk bagian tersulitnya.

Pembagian peran yang disebut sumber-sumber sejarah kira-kira begini. Hedy memberi gagasan frequency hopping untuk kendali radio, sedangkan Antheil, yang sebelumnya sudah berpengalaman dengan sinkronisasi piano otomatis, menyumbang mekanismenya. Menurut Wikipedia, Antheil juga bekerja dengan profesor Caltech bernama Samuel Mackeown untuk sistem listriknya. Tidak ada angka resmi soal "siapa berkontribusi berapa persen". Ini hasil kerja bareng.

Paten 1942, lalu Angkatan Laut bilang "makasih, tapi enggak"

Mereka mengajukan paten pada 10 Juni 1941. Paten itu disetujui pada 11 Agustus 1942 dengan judul Secret Communication System (sistem komunikasi rahasia), nomor US 2.292.387. Di dokumennya, Hedy tercatat dengan nama pernikahannya saat itu: Hedy Kiesler Markey.

Lalu apa tanggapan militer? Angkatan Laut AS menolaknya. Alasannya: mekanisme berbasis gulungan itu dinilai terlalu besar dan tidak cukup andal untuk dipasang di torpedo. Jadi sebenarnya masalahnya bukan di ide, tapi di teknologi zaman itu. Mesin mekanis sebesar itu belum bisa dikecilkan.

Setelah penolakan, Hedy disarankan membantu cara lain: mengumpulkan dana perang. Dia pun keliling menjual obligasi perang (war bonds, surat utang yang dijual pemerintah untuk membiayai perang). Menurut Smithsonian, dia konon mengumpulkan 7 juta dolar dalam satu malam. Angka itu datang dari artikel tersebut tanpa sumber pendukung, jadi anggap saja sebagai cerita yang populer, bukan angka yang sudah dikonfirmasi. PBS menuliskannya dengan lebih nyentrik: dia diminta menjual ciuman demi obligasi perang.

Bayangin: kamu mengajukan desain teknologi pertahanan, lalu dijawab "bagus, tapi mending kamu jadi duta penjualan". Itu kejadian beneran.

Idenya hidup lagi, tapi tanpa dia

Cerita ini punya babak lanjutan yang agak pahit. Pada 1957, insinyur di Sylvania Electronic Systems mengambil konsepnya dan membuat versi elektronik memakai transistor, komponen kecil yang menggantikan mekanisme gulungan yang dulu dianggap terlalu besar. Pada 1962, teknik serupa dipakai di sistem komunikasi militer kapal-kapal AS yang dikirim memblokade Kuba.

Masalahnya, paten Hedy dan Antheil sudah kedaluwarsa tiga tahun sebelumnya. Menurut ETHW, keduanya tidak pernah menerima royalti. Antheil sendiri meninggal pada 1959, jadi dia nggak sempat melihat idenya dipakai.

Jadi, Hedy Lamarr penemu Wi-Fi?

Kamu mungkin pernah baca judul seperti "aktris Hollywood yang menemukan Wi-Fi". Menarik sih, tapi kurang tepat.

  • Frequency hopping dan teknik spread spectrum (menyebarkan sinyal di rentang frekuensi yang lebar) memang jadi dasar banyak sistem nirkabel. Wi-Fi dan Bluetooth generasi awal memakai varian spread spectrum.
  • Tapi menurut sumber yang sama, konsep frequency hopping sudah ada sebelum paten Lamarr dan Antheil. Mereka bukan yang pertama kali memikirkannya.
  • Artikel Smithsonian juga tidak menyebut Hedy menemukan Wi-Fi. Ia menulis bahwa idenya "mendahului" teknologi seperti ponsel, GPS, dan Wi-Fi.

Jadi cara paling jujur menceritakannya begini: Hedy dan Antheil mematenkan sistem komunikasi aman yang memakai loncat frekuensi dalam bentuk yang unik. Idenya sejalan dengan prinsip yang kemudian berkembang di banyak teknologi nirkabel. Bukan "penemu Wi-Fi", tapi tetap pantas dikenang.

Menurutku, versi yang lebih akurat ini justru lebih keren. Kamu nggak perlu melebih-lebihkan sesuatu yang sudah menarik.

Karier film dan trivia yang bikin senyum

Setelah kontraknya dengan MGM berakhir, Hedy memproduksi film sendiri, antara lain The Strange Woman (1946), Dishonored Lady (1947), dan The Loves of Three Queens (1954), menurut PBS. Karier filmnya menurun pada akhir 1940-an. Dia menjadi warga negara AS pada 10 April 1953.

Satu trivia ringan: tokoh jahat di film komedi Blazing Saddles, Hedley Lamarr, namanya diambil dari dia. Hedy menggugat Warner Bros., mendapat penyelesaian kecil di luar pengadilan, dan menurut PBS, Mel Brooks meminta maaf karena nyaris memakai namanya begitu saja.

Pengakuan yang datang telat

Bintangnya di Hollywood Walk of Fame dipasang pada 1960. Pengakuan atas karya teknisnya baru datang jauh setelahnya:

  • 1997: Electronic Frontier Foundation (EFF, organisasi hak digital) memberi Pioneer Award kepada Hedy dan Antheil. Putranya, Anthony Loder, menerimanya mewakili dia. Reaksi Hedy, kata PBS, kurang lebih "sudah waktunya".
  • 2014: Hedy dimasukkan ke National Inventors Hall of Fame, secara anumerta alias setelah dia meninggal.
  • 2015: Google membuat Doodle untuk ulang tahunnya yang ke-101.

Hedy meninggal pada 19 Januari 2000 di rumahnya di Casselberry, Florida, pada usia 85 tahun, karena penyakit jantung.

Satu pelajaran yang bisa kita bawa

Ada tiga hal yang menurutku layak dicatat dari hidup Hedy Lamarr.

  1. Ide bagus bisa datang lebih cepat dari teknologinya. Frequency hopping versi mereka ditolak karena komponen zaman itu belum cukup kecil. Penolakan belum tentu berarti idenya salah.
  2. Kredit sering datang terlambat, dan sering tidak lengkap. Kita bisa melawannya dengan hal sederhana: menyebut siapa yang berkontribusi dan seakurat mungkin.
  3. Jangan reduksi orang jadi satu label. Dunia melihat Hedy sebagai wajah cantik. Padahal di saat yang sama dia ikut menggagas sistem komunikasi aman yang jejaknya masih terasa sampai sekarang.

Jadi lain kali ada yang bilang kamu "cuma" ini atau "cuma" itu, ingat saja satu aktris yang diminta menjual ciuman, padahal otaknya lagi mikirin torpedo.

Sumber

Catatan: beberapa detail (tahun lahir, cara kabur dari Mandl, dan angka penjualan obligasi) berbeda antar sumber atau tidak punya sumber pendukung, dan sudah ditandai di atas.

Back to all stories