Tjokorda Raka Sukawati: Insinyur Bali di Balik Sosrobahu, Teknik Memutar Tiang Jalan Layang Tanpa Bikin Macet
Kamu mungkin pernah lewat jalan layang yang dibangun pakai Sosrobahu tanpa sadar. Ini kisah Tjokorda Raka Sukawati, insinyur asal Ubud yang terinspirasi dongkrak dan genangan oli, memutar kepala tiang 90 derajat, lalu menyebarkan teknologinya sampai ke luar negeri. Plus bagian yang masih simpang siur soal tanggal dan asal-usulnya.
Bayangkan kamu bos proyek jalan tol layang di tengah Jakarta. Di bawahnya, jalan raya padat yang nggak boleh ditutup. Biasanya, bikin jalan layang berarti cor beton di tempat, pasang perancah, dan menutup sebagian jalan berbulan-bulan. Macetnya? Bisa dibayangkan sendiri.
Nah, di akhir 1980-an ada seorang insinyur asal Bali yang punya cara lain: bikin bagian atas tiang di samping jalan, lalu angkat dan putar 90 derajat ke tempatnya. Teknik ini dinamai Sosrobahu, dan sampai sekarang masih dipakai di beberapa negara. Yuk kita kenalan dengan orang di baliknya.
Siapa sih Tjokorda Raka Sukawati?
Tjokorda Raka Sukawati lahir 3 Mei 1931 di Ubud, Gianyar, Bali. Menurut Wikipedia, ia cucu Tjokorda Gede Sukawati, penguasa Ubud, dan menempuh pendidikan teknik di Institut Teknologi Bandung sebelum meraih gelar doktor dari Universitas Gadjah Mada.
Jadi dia bukan "orang bengkel yang tiba-tiba kepikiran ide jenius". Latar belakangnya insinyur sipil yang terlatih, dan ide besarnya lahir dari masalah nyata di lapangan. Tapi, seperti banyak penemuan lain, pemicunya justru kejadian sepele.
Dari mobil yang dikerek, lahirlah ide
Ada dua versi cerita pemicunya, dan keduanya mirip. Menurut The Jakarta Post, suatu Minggu pagi ia sedang mengutak-atik mobil Mercedes miliknya. Ia melihat mobil yang diangkat dongkrak hidrolik kecil bisa bergeser mulus di atas genangan oli. Dari situ ia berpikir: kalau beban seberat mobil saja bisa digeser semudah itu, kenapa nggak dipakai untuk beton seberat ratusan ton?
Wikipedia menulis versi serupa: mobil yang terangkat di lantai garasi berminyak, gesekannya kecil, dan beban berat jadi gampang bergerak. Detail tahun dan modelnya beda antar sumber, jadi anggap saja ini cerita asal-usul yang dikutip media, bukan catatan resmi.
Ide ini ketemu masalah nyata. Menurut Times Indonesia, pada 1976 pemerintah merencanakan jalan tol dari Jagorawi ke Tanjung Priok, dan Tjokorda diangkat sebagai ketua tim pengelola proyeknya. Cara cor konvensional akan mengganggu lalu lintas, sementara cara segmental dianggap lebih mahal dan lebih lama.
Gimana cara kerja Sosrobahu?
Biar nggak ribet, begini konsep dasarnya.
Tiang vertikal (pilar) dibangun di antara dua jalan. Lalu bagian "kepala tiang" (pier head), yaitu penopang horizontal tempat nanti balok jalan layang bertumpu, dicor di samping tiang, sejajar dengan jalan di bawahnya. Setelah beton siap, kepala tiang diangkat dan diputar 90 derajat sampai pas di atas pilar (Wikipedia).
Kuncinya ada di alat putar yang disebut LPBH atau Landasan Putar Bebas Hambatan. Menurut Wikipedia, rancangan akhirnya memakai dua cakram beton tipis yang dipisahkan oli bertekanan, dengan segel karet di tepinya. Jadi beban ratusan ton "mengambang" di atas lapisan oli dan bisa diputar pelan-pelan. Persis seperti ide mobil di genangan oli tadi, hanya skalanya jauh lebih besar.
Keuntungannya jelas. Pengerjaan di atas jalan nggak perlu menutup lajur lama-lama, dan menurut Good News from Indonesia, cara ini juga mengurangi kebutuhan membebaskan lahan di sepanjang jalur. Times Indonesia menyebut proyek tol Jagorawi-Tanjung Priok selesai sekitar sembilan bulan lebih cepat dengan kualitas tetap terjaga.
Nggak langsung jadi: trial and error
Jangan bayangkan ide ini langsung jalan di percobaan pertama. Menurut Wikipedia, uji awal dengan silinder berdiameter 20 cm memang bisa mengangkat 80 ton beton, tapi gagal menurunkannya dengan baik karena dongkrak bergeser. Desain direvisi sampai stabil menahan beban penuh. The Jakarta Post menyebut proses pengembangannya memakan waktu sekitar setahun penuh percobaan.
Ini bagian yang sering hilang di cerita "penemu jenius": inovasi besar biasanya lahir dari banyak uji coba, banyak yang gagal dulu, dan hampir pasti melibatkan tim. Sumber yang saya baca lebih banyak menonjolkan nama Tjokorda, jadi peran tim dan kontraktor di lapangan memang kurang terdokumentasi. Wajar kalau kita membayangkan ada banyak insinyur dan pekerja di balik angka-angka itu.
Pertama kali dipakai: kapan, di mana?
Di sini sumber-sumbernya agak berbeda, dan lebih jujur kalau kita tulis begitu.
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menyebut Sosrobahu pertama dipakai pada 30 Juni 1987, saat pilar pertama dibangun untuk jalan tol Ir. Wiyoto Wiyono (dulu disebut North South Link). Sementara Wikipedia menulis bahwa pada 27 Juli 1988, sebuah kepala tiang beton seberat 440 ton diangkat dan dipasang di atas pilarnya dengan pompa hidrolik. The Jakarta Post juga menyebut penerapan pertama pada 1988.
Perbedaan itu mungkin karena yang dihitung beda: tahap pembangunan pilar, uji coba, atau pemutaran kepala tiang pertama. Saya tidak bisa memastikan mana yang dipakai secara resmi, jadi aman kita bilang saja: teknik ini mulai dipakai di ruas Cawang-Tanjung Priok pada 1987-1988.
Beberapa angka lain dari BPJT: jalan tol Wiyoto Wiyono panjangnya 30,68 km, dan ruas Cawang-Tanjung Priok punya 85 kepala tiang yang diputar dengan metode ini. Kepala tiang di ruas itu dicor di lajur tengah, dan Wikipedia menyebut bobotnya sekitar 480 ton per buah.
Kenapa namanya "Sosrobahu"?
Nama ini nggak dikasih Tjokorda sendiri. Menurut Good News from Indonesia dan Wikipedia, Presiden Soeharto yang memberi nama teknik ini pada November 1989. "Sosro" berarti seribu dan "bahu" berarti bahu atau pundak dalam bahasa Jawa Kuno, jadi artinya kira-kira "seribu bahu", merujuk pada tokoh pewayangan. Sumber-sumbernya beda soal tokohnya (satu menyebut Mahabharata, satu menyebut Ramayana), jadi kita cukup sebut "tokoh pewayangan".
Maknanya cocok: beton ratusan ton "dipanggul" dan diputar seolah punya seribu bahu.
Paten dan perjalanan ke luar negeri
Sosrobahu sempat dipatenkan. Menurut Good News from Indonesia dan Wikipedia, Jepang memberi paten pada 1992 dan Indonesia pada 1995. Good News from Indonesia juga menyebut paten di Malaysia dan Filipina.
Teknologi ini lalu dipakai di luar negeri. Menurut detikFinance, Sosrobahu dipakai di Malaysia sejak 1996, dan di Filipina pada Metro Manila Skyway tahap 1 (1999), tahap 2 (2011), dan tahap 3 (2015), plus jalan akses bandara NAIA (2014). Wikipedia menyebut Skyway sebagai ruas terpanjang dengan 298 penyangga. Times Indonesia mengatakan teknik ini juga dipakai di Thailand dan Singapura.
Ada juga klaim bahwa teknologinya dipakai di Amerika Serikat (jembatan di Seattle). Klaim ini hanya saya temukan di satu sumber sekunder, jadi saya sengaja tidak mengandalkannya.
Di dalam negeri, teknik ini sempat "tidur" setelah era 1980-an, lalu dihidupkan lagi untuk proyek tol layang Jakarta-Cikampek (detikFinance). Times Indonesia mencatat bahwa tol layang Sheikh Mohammed bin Zayed sepanjang 36 km, yang diresmikan Desember 2019, memakai Sosrobahu untuk 200 dari 294 kepala tiangnya.
Penghargaan dan akhir hidup
Menurut The Jakarta Post, Tjokorda menerima Bintang Pratama dari Presiden Soeharto. Ia wafat pada 11 November 2014 di Ubud. Wikipedia mencatat usianya 83 tahun, sementara The Jakarta Post menulis 85; dari tahun lahir 1931, hitungan 83 lebih masuk akal. Upacara ngaben-nya di Ubud digelar dengan penghormatan layaknya pahlawan nasional.
Pada 9 Desember 2021, biografinya, Melangkah Tanpa Lelah, diluncurkan di Perpustakaan Nasional di Jakarta (Times Indonesia). Di acara itu, Menteri PUPR saat itu, Basuki Hadimuljono, mengajak kita meneladani keteguhan hati dan keberanian Tjokorda dalam menciptakan inovasi.
Satu kutipan yang sering beredar adalah komentar Presiden Filipina Fidel Ramos bahwa ini "penemuan Indonesia, tapi juga penemuan ASEAN". Saya hanya menemukannya di satu sumber sekunder (Good News from Indonesia), jadi anggap ini kutipan yang dilaporkan, bukan yang sudah saya lacak ke sumber primernya.
Apa yang bisa kita pelajari?
Pertama, inovasi besar sering bukan soal alat canggih, tapi soal memandang masalah lama dengan cara baru. Tjokorda nggak menciptakan hidrolik atau oli. Ia menggabungkan hal yang sudah ada untuk menjawab masalah yang spesifik: bagaimana bangun jalan layang di kota padat tanpa melumpuhkan lalu lintas.
Kedua, ide bagus butuh konteks yang mendukung. Ada proyek besar yang butuh solusi, ada kesempatan untuk uji coba, dan ada pihak yang mau mencoba teknologi lokal. Tanpa itu, ide di garasi tinggal ide.
Ketiga, kita perlu hati-hati dengan cerita "satu orang jenius". Tjokorda jelas tokoh kuncinya, tapi proyek sebesar itu pasti melibatkan banyak tangan. Menghargai penemunya nggak berarti melupakan timnya.
Dan terakhir, coba perhatikan jalan layang di kotamu. Mungkin di bawah salah satu tiangnya ada kisah seorang insinyur Ubud dan genangan oli di garasi.
Sumber
- Tjokorda Raka Sukawati - Wikipedia
- Sosrobahu - Wikipedia
- Man of 1,000 shoulders - The Jakarta Post (2014)
- The World Owes Indonesia Part II - Good News from Indonesia
- Sejak 1987, Teknologi Sosrobahu di Tol Wiyoto Wiyono - BPJT
- Peluncuran Biografi Tjokorda Raka Sukawati - Times Indonesia
- RI Garap Proyek Infrastruktur Pakai Teknologi Sosrobahu - detikFinance








.webp%3Fv%3D1792570478588&w=640&q=75)