Raden Saleh: Pelukis Jawa yang Belajar di Eropa, Lalu Melukis Diponegoro dengan Cara yang Berani
Anak Jawa yang dikirim belajar ke Eropa, dijuluki "pangeran Timur", lalu pulang dan melukis penangkapan Diponegoro dengan cara yang bikin para sejarawan masih berdebat. Kisah Raden Saleh: dari Terboyo, Dresden, sampai Bogor, plus bagian yang masih simpang siur.

Coba bayangkan: kamu anak muda dari pesisir utara Jawa di awal abad ke-19, lalu dikirim ke Eropa buat belajar melukis. Di sana kamu bergaul dengan bangsawan, tinggal bertahun-tahun di Jerman, dan fasih beberapa bahasa. Puluhan tahun kemudian kamu pulang, bekerja untuk pemerintah kolonial, tapi diam-diam melukis peristiwa yang paling menyakitkan buat bangsamu: penangkapan Pangeran Diponegoro.
Itulah hidup Raden Saleh. Dia sering disebut pelukis modern pertama dari Indonesia. Tapi ceritanya jauh dari hitam-putih, dan itu justru yang bikin menarik.
Siapa sebenarnya Raden Saleh?
Nama lengkapnya Saleh Sjarif Boestaman, atau Raden Saleh Syarif Bustaman. Dia lahir sekitar tahun 1811 di sekitar Semarang (sebagian sumber menyebut desa Terboyo). Ayahnya berasal dari keluarga keturunan Hadhrami yang leluhurnya sampai di Jawa lewat India, menurut Wikipedia.
Soal tahun lahir, sumber-sumber nggak sepakat. Ada yang menulis Mei 1811, ada juga yang memperkirakan lebih muda. Jadi kita tulis "sekitar 1811" saja, dan jujur bilang bahwa ini belum pasti. Hal serupa berlaku untuk banyak detail hidupnya.
Bakat yang dilihat seorang guru
Titik balik pertamanya datang dari Antoine Payen, pelukis Belgia yang tinggal di Jawa. Payen melihat bakat Saleh muda dan mendorong pemerintah kolonial membiayai pendidikannya di Belanda. Saleh berangkat saat remaja, sekitar 1829 atau 1830 (sumbernya berbeda), seperti dijelaskan Wikipedia dan Qantara.
Di Belanda dia belajar potret pada Cornelis Kruseman dan lanskap pada Andreas Schelfhout. Jadi kemampuan dasarnya ditempa di tradisi akademi Eropa.
Dari Belanda ke Jerman, lalu jadi "pangeran Timur"
Setelah masa belajar, Saleh berkeliling Eropa. Dia singgah di kota-kota Jerman seperti Düsseldorf, Frankfurt, Berlin, dan Dresden, dan jatuh hati pada aliran Romantik Jerman, menurut Bisnis.com. Di Dresden dia mendapat pesanan lukisan sehingga bisa bekerja sebagai pelukis mandiri, dan konon menyebut masa di Saksen sebagai masa terbaik dalam hidupnya.
Di Eropa dia juga mendapat dukungan Adipati Ernst I dari Saxe-Coburg dan Gotha. Dia kemudian menjalin hubungan lama dengan keluarga ini, bahkan menulis surat kepada penerusnya, Ernst II, soal lukisan Diponegoro.
Ada satu bagian yang perlu kita bahas dengan jujur. Smarthistory menyebut Saleh mendapat dukungan dengan menampilkan diri sebagai "pangeran Timur". Qantara menambahkan bahwa dia bukan pangeran sungguhan dan pernah menambahkan "von" pada namanya supaya mudah masuk lingkaran bangsawan. Itu strategi bertahan hidup di dunia yang penuh prasangka, sekaligus bagian dari citra yang dia bangun sendiri.
Dia juga tercatat masuk Freemasonry pada 1836 menurut Wikipedia, dan tinggal di Paris, tempat dia bertemu pelukis Horace Vernet.
Singa, perburuan, dan nama besar di Eropa
Saleh dikenal lewat lukisan binatang buas dan adegan berburu: singa, harimau, kuda, rusa. Yang unik, di Jawa nggak ada singa. Jadi dia diduga belajar dari kebun binatang dan sirkus. Wikipedia mencatat, penjinak singa Henri Martin mengizinkannya mempelajari seekor singa di Den Haag, dan itu melahirkan lukisan-lukisan pertarungan binatangnya yang terkenal.
Lukisan Lion Hunt (kemudian berjudul The Last Resort) terjual hampir dua juta euro pada 2011, menurut Qantara. Angka itu menunjukkan betapa tingginya nilai karyanya di pasar seni sekarang.
Ada juga perdebatan seru: sebagian orang membandingkan lukisan singanya dengan karya Delacroix. Tapi peneliti Werner Krauss mencatat bahwa Saleh sendiri nggak pernah menyebut Delacroix. Jadi pengaruh itu dugaan, bukan fakta.
Pulang ke Jawa
Setelah sekitar dua dekade di Eropa, Saleh kembali ke Hindia Belanda pada awal 1850-an (sumber menyebut 1851 atau 1852). Dia bekerja sebagai konservator koleksi seni pemerintah kolonial dan pelukis untuk para gubernur jenderal.
Dia melukis potret pejabat Eropa, bangsawan Jawa, dan elite Tionghoa peranakan, juga lanskap. Wikipedia mencatat satu surat Saleh yang mengeluhkan bahwa orang-orang di sana cuma membicarakan kopi dan gula. Kesannya, dia kangen suasana intelektual Eropa, tapi juga paham posisinya serba tanggung.
Dia menikah dengan Constancia von Mansfeld, seorang perempuan kaya berdarah campuran, yang membantu membiayai rumah di Cikini. Rumah itu terinspirasi Kastil Callenberg di Jerman. Sampai sekarang bangunan itu masih dipakai sebagai RS PGI Cikini, dan tanah di sekitarnya kelak menjadi Taman Ismail Marzuki.
Setelah istri pertamanya wafat, dia menikah lagi pada 1867 dengan Raden Ayu Danudirdja dari lingkungan Keraton Yogyakarta, lalu pindah ke Bogor.
Lukisan yang bikin orang berdebat: Penangkapan Pangeran Diponegoro
Sekarang masuk ke karya yang paling sering dibahas. Peristiwanya nyata: pada 28 Maret 1830 di Magelang, Pangeran Diponegoro ditangkap pasukan Belanda saat berunding. Dia diundang dengan dalih perundingan damai oleh Jenderal De Kock, lalu ditahan dan diasingkan. Diponegoro wafat di Makassar pada 1855 (Smarthistory).
Saleh mengerjakan lukisan ini sekitar 1856 dan menyelesaikannya pada 1857. Bisnis.com mencatat suratnya kepada Ernst II bertanggal 12 Maret 1857, yang menyebut lukisan itu sudah selesai.

Foto: Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857), via Wikimedia Commons, domain publik.
Ada beberapa hal menarik dari lukisan ini:
Diponegoro berdiri tegak. Di versi pelukis Belanda Nicolaas Pieneman, Diponegoro tampak kalah dan pasrah. Di versi Saleh, dia berdiri di tengah dan terlihat berusaha menahan amarah.
Kepala orang Belanda digambar besar. Krauss berpendapat bahwa bagi penonton Jawa, proporsi itu bisa dibaca seperti raksasa dalam wayang, yaitu sosok yang nggak terlalu terhormat. Sejarawan H.J. de Graaf justru mengkritik proporsi itu. Jadi kita melihat dua pembacaan berbeda, dan keduanya hanya tafsir.
Saleh melukis dirinya sendiri. Menurut Smarthistory, ada tiga pengikut Diponegoro di sisi kanan yang diyakini sebagai potret diri Saleh. Peter Carey membaca ini sebagai ungkapan simpati dan kekaguman.
Ada konteks keluarga. Smarthistory mencatat keluarga Saleh mendukung Diponegoro, dan ayah serta saudaranya diasingkan pada 1825. Tapi sebagai catatan, detail ini datang dari satu sumber saja, jadi kita perlakukan sebagai klaim yang layak dicek lebih lanjut.
Tapi kenapa lukisan itu dihadiahkan ke raja Belanda?
Ini bagian yang bikin sejarawan sampai sekarang berbeda pendapat. Saleh memberikan lukisan itu kepada Raja Willem III sebagai tanda terima kasih atas pendidikan yang dibiayai pemerintah Belanda.
Peter Carey menyebutnya "curious backhanded gesture", semacam hadiah yang sekaligus menyindir. Susie Protschky justru membaca tindakan itu sebagai pengakuan atas kekuasaan Belanda. Dua tafsir ini sama-sama punya dasar, dan kita nggak bisa memastikan niat Saleh yang sebenarnya, karena tidak ada catatan yang menjelaskan pikirannya secara pasti.
Lukisan itu kemudian tersimpan di koleksi kerajaan Belanda, dan baru kembali ke Indonesia pada 1978 lewat perjanjian budaya 1969. Sekarang lukisan ini dikenal sebagai cagar budaya nasional. Lokasi pastinya disebut beda-beda di sumber (Istana Negara di Jakarta menurut Bisnis.com, Galeri Nasional menurut Wikipedia), jadi kalau mau lihat langsung, cek informasi terbaru dulu.
Akhir hidup dan warisan
Pada 23 April 1880 Saleh tiba-tiba jatuh sakit dan sempat mengaku diracun pelayannya. Pemeriksaan jenazah menyimpulkan ada gumpalan darah dekat jantung yang mengganggu peredaran darahnya. Dia dimakamkan dua hari kemudian di Kampung Empang, Bogor, dan istrinya menyusul wafat tiga bulan setelahnya (Wikipedia).
Makamnya sempat terlupakan, lalu ditemukan kembali pada 1923. Pada 1953, Presiden Sukarno mengunjungi makam itu dan menugaskan arsitek Friedrich Silaban untuk memugarnya.
Penilaian terhadap Saleh juga berubah-ubah. Smarthistory mencatat, pada 1946 pelukis Sudjojono mempertanyakan kesetiaannya pada kekuasaan kolonial. Setelah lukisan Diponegoro kembali pada 1978, pandangan terhadapnya jadi lebih positif, dan sekarang dia diakui sebagai perintis seni rupa modern Indonesia.
Satu pelajaran dari Raden Saleh
Yang bisa kita pelajari dari Saleh: orang bisa hidup di dua dunia sekaligus tanpa jadi tokoh yang sempurna. Dia bergantung pada patron kolonial dan memakai persona "pangeran Timur" untuk bertahan, tapi di saat yang sama menghasilkan karya yang sampai hari ini memancing perdebatan soal siapa yang berhak menceritakan sejarah.
Jadi lain kali kamu melihat lukisan itu, coba perhatikan siapa yang berdiri paling tegak, dan siapa yang kepalanya digambar kebesaran. Kadang protes paling tajam bukan datang dari pidato, tapi dari cara kuas menempatkan seseorang di atas kanvas.








.webp%3Fv%3D1792570478588&w=640&q=75)