"Habis Gelap Terbitlah Terang": Cerita di Balik Judul Buku Kartini yang Sering Kita Kira Kutipannya
Semua orang pernah dengar "Habis gelap terbitlah terang" dan mengira itu kalimat Kartini. Padahal ia berawal dari judul buku Belanda yang disusun orang lain. Kita telusuri siapa yang menyusun, kapan, kenapa, apa yang dibuang dari surat-suratnya, dan bagian cerita yang masih belum bisa dipastikan.
Waktu sekolah dulu, kamu mungkin pernah disuruh menghafal kalimat ini untuk lomba atau pidato Hari Kartini: "Habis gelap terbitlah terang." Biasanya disampaikan dengan nada yakin, seolah Kartini menuliskannya di buku hariannya lalu ditempel di dinding kamar.
Ceritanya ternyata lebih berlapis. Kalimat itu terutama dikenal sebagai judul sebuah buku, dan buku itu pun disusun serta disunting orang lain, tujuh tahun setelah Kartini meninggal. Jadi pertanyaan yang menarik buat kita bukan cuma "apa artinya", tapi siapa yang memilih kata-kata itu, dan apa yang ikut hilang di prosesnya.
Dulu dia siapa, sih?
Kartini lahir 21 April 1879 di Jawa Tengah, dari keluarga bupati Jepara. Ayahnya, menurut catatan Leiden Special Collections, membolehkan anak-anak perempuannya belajar membaca dan menulis, hal yang saat itu tidak lazim untuk anak perempuan. Setelah mulai haid, ia tetap harus menjalani pingitan, masa dikurung di rumah sebelum menikah. Guru privat Belandanya sempat membujuk sang ayah supaya masa itu diakhiri.
Dari rumah itulah Kartini membangun dunianya lewat buku, majalah, dan surat. Salah satu lawan surat paling dekatnya adalah Rosa Abendanon, istri J.H. Abendanon, pejabat tinggi urusan pendidikan, agama, dan kerajinan di pemerintah Hindia Belanda. Surat-surat itulah yang kelak jadi bahan buku yang terkenal.
Kartini sendiri meninggal 17 September 1904 di Rembang pada usia 25 tahun, empat hari setelah melahirkan anaknya. Ia belum sempat melihat satu pun suratnya dicetak jadi buku.
Buku yang lahir setelah ia tiada
Pada 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat Kartini dengan judul Belanda Door Duisternis tot Licht ("Melalui Kegelapan Menuju Cahaya"), dengan anak judul Gedachten over en voor het Javaansche volk. Beberapa sumber menulis tahunnya 1912, jadi untuk aman kita sebut "sekitar 1911".
Buku itu laku. Menurut Leiden Special Collections, hasil penjualannya dipakai Abendanon untuk mendanai yayasan yang membangun sekolah-sekolah untuk anak perempuan pribumi, yang kita kenal sebagai Sekolah Kartini. Jadi dampak praktisnya nyata dan baik.
Tapi ada sisi lain. Ini penting kita bedakan antara fakta dan tafsiran:
- Fakta yang banyak dicatat: Abendanon yang memilih surat mana yang dimuat. Menurut ringkasan di Wikipedia, edisi 1911 tidak memuat sejumlah rujukan pada tokoh kolonial, keyakinan Islam, dan budaya Jawa. Terjemahan Inggris tahun 1920 oleh Agnes Louise Symmers kemudian mengubahnya lebih jauh.
- Tafsiran seorang penulis: Saut Situmorang berpendapat judul "dari gelap ke terang" dipakai Abendanon sebagai cerita tentang perempuan Jawa yang "ditarik" menuju peradaban Eropa, sehingga cocok dengan narasi Politik Etis. Ini pendapat, bukan fakta yang disepakati semua sejarawan.
Satu hal yang aman kita simpulkan: buku yang kita warisi adalah Kartini yang sudah diseleksi, bukan arsip lengkapnya.
Kalimat versi Indonesia datang belakangan
Judul "Habis Gelap Terbitlah Terang" muncul ketika buku itu diterjemahkan ke bahasa Melayu. Wikipedia mencatat terjemahan terbitan Balai Pustaka tahun 1922 oleh "Empat Saudara", dibuat atas permintaan Abendanon. Versi karya Armijn Pane muncul belakangan dan sering dianggap yang paling populer, tapi sumber yang saya baca menyebut tahun berbeda-beda untuk versi ini, jadi saya tidak menaruh angka pasti.
Perhatikan juga bedanya: bahasa Belanda "Door duisternis tot licht" itu proses (melalui gelap menuju terang), sedangkan "habis gelap terbitlah terang" terdengar seperti janji otomatis: kalau gelap sudah selesai, terang pasti datang. Terjemahan itu enak didengar, tapi nuansanya bergeser. Ini pembacaan saya atas dua rumusan itu, bukan klaim dari sumber tertentu.
Lalu, kata-kata Kartini sendiri seperti apa?
Kita bisa melihatnya langsung di terjemahan Inggris surat-suratnya yang sudah menjadi domain publik. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar tertanggal 6 November 1899, Kartini menulis soal kebiasaan di sekitarnya: "It is customary to read from the Koran; but what is read no one understands!" (dalam terjemahan Symmers). Ia juga menulis bahwa baginya membaca sesuatu tanpa bisa memahaminya adalah hal yang konyol.
Itu kalimat yang tajam, dan jelas bukan slogan yang manis. Yang terlihat di sana adalah anak muda yang gelisah karena disuruh menerima sesuatu tanpa boleh mengerti. Dari situ kita bisa membayangkan kenapa metafora gelap dan terang begitu dekat dengan dirinya. Dalam satu surat lain ia juga menulis harapan untuk "mengirim terang ke dunia mereka yang malang dan gelap".
Jadi, secara gagasan, tema gelap-terang memang ada di surat-suratnya. Yang tidak bisa kita pastikan adalah apakah rumusan lengkap "habis gelap terbitlah terang" pernah ia tulis sendiri dalam bentuk itu. Gagasannya miliknya; judulnya milik penyuntingnya.
Kaitan dengan Al-Qur'an: cerita yang populer, tapi belum bisa saya pastikan
Di kalangan pesantren dan media Islam, ada cerita yang sangat populer: Kartini mendengar pengajian Kiai Sholeh Darat di Demak, lalu meminta Al-Qur'an diterjemahkan. Sang kiai kemudian menulis tafsir berbahasa Jawa beraksara Arab, Faidh al-Rahman. Dari tafsir itu Kartini disebut menemukan ayat minazh-zhulumati ilan-nur (Al-Baqarah ayat 257), "dari kegelapan menuju cahaya", yang kemudian menjadi inspirasi ungkapan "Door duisternis tot licht".
Ini cerita yang menarik, tapi saya sarankan kita pegang dengan hati-hati:
- Salah satu artikel NU yang saya baca mengutip jalur cerita lisan (dari seorang ulama yang mengutip menantu Kiai Sholeh Darat), dan tidak menjelaskan bagaimana kesahihannya diverifikasi.
- Artikel jurnal tahun 2024 di Mushaf membandingkan tafsir Sholeh Darat dengan pembacaan Kartini. Namun halaman yang bisa saya akses tidak memuat teks surat Kartini yang dimaksud beserta tanggalnya, jadi saya tidak bisa memeriksa hubungan itu langsung dari surat aslinya.
- Wikipedia (versi bahasa Inggris) sama sekali tidak menyebut cerita ini.
Jadi anggap ini sebagai tradisi cerita yang kuat dan layak dibahas, bukan fakta yang sudah terbukti dari dokumen primer. Kalau kamu penasaran, kumpulan lengkap surat yang dikerjakan sejarawan Joost Coté (Kartini: The Complete Writings 1898-1904, 2014, memuat 141 surat menurut Inside Indonesia) adalah tempat yang tepat untuk mengeceknya sendiri.
Dari mitos menjadi pahlawan
Setelah merdeka, Kartini dijadikan pahlawan nasional pada 1964, dan 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Menurut pengantar buku Appropriating Kartini (Cambridge), maknanya terus bergeser: dari tokoh yang dikenal di kalangan kolonial, ke simbol di berbagai konteks negara dan masyarakat.
Saut Situmorang berargumen bahwa citra "pahlawan anti-kolonial" sebagian merupakan konstruksi, dan menyebut dua buku Indonesia berpengaruh membentuknya, yaitu karya Pramoedya Ananta Toer (1962) dan Sitisoemandari Soeroto (1977). Lagi-lagi itu pendapat satu penulis, tapi ia mengingatkan kita pada hal sederhana: tokoh yang kita peringati sering kali sudah melewati banyak tangan.
Apa yang bisa kita ambil?
Ada tiga hal yang menurut saya layak dibawa pulang.
Pertama, cek asal kutipan sebelum kita bagikan. Bahkan kalimat yang paling sering diulang bisa ternyata judul buku, hasil terjemahan, atau tafsiran penyunting. Itu bukan berarti kalimatnya jelek. Justru kita jadi tahu cerita lengkapnya.
Kedua, suara orang yang sudah wafat sering sampai ke kita lewat penyunting. Kartini tidak sempat memilih mana suratnya yang dicetak. Artinya, wajar kalau kita membaca dengan rasa ingin tahu: apa yang tidak dimuat?
Ketiga, kalau mau kenal Kartini, baca suratnya, bukan cuma kutipannya. Di sana ada gadis yang marah karena disuruh membaca tanpa mengerti, dan itu mungkin lebih jujur daripada slogan mana pun.
Sumber
- Letters of a Javanese Princess (Wikipedia)
- Kartini (Wikipedia)
- Letters of a Javanese Princess, terjemahan Agnes Louise Symmers, teks lengkap (Project Gutenberg)
- Raden Ajeng Kartini (1879-1904): Pioneer for women's rights (Leiden Special Collections)
- Introduction, Appropriating Kartini (Cambridge University Press)
- Review: Kartini's letters in translation (Inside Indonesia)
- Decolonising the Myth of Kartini, Saut Situmorang (Histori Bersama)
- Pelopor Penerjemahan Al-Qur'an (NU Online)
- Out of Darkness Comes Light: Analysis of Tafsir Faid al-Rahman QS. Al-Baqarah 257 (Mushaf)








.webp%3Fv%3D1792570478588&w=640&q=75)