Tu Youyou: Peneliti Tanpa Gelar Doktor yang Menemukan Obat Malaria dari Tanaman yang Dulu Dipakai untuk Demam
Dari 240 ribu senyawa yang gagal, satu jawaban justru muncul dari teks pengobatan berusia belasan abad. Kisah Tu Youyou dan Proyek 523: kenapa pelarut bersuhu rendah mengubah segalanya, siapa saja yang ikut berjasa, dan kenapa soal "siapa penemu artemisinin" masih diperdebatkan.
Bayangkan kamu kerja di lab, sudah ratusan ribu senyawa dicoba, dan semuanya gagal. Lalu petunjuknya malah datang dari kitab resep yang ditulis belasan abad lalu. Kedengarannya seperti plot film, tapi ini kisah nyata di balik artemisinin, obat yang sampai sekarang jadi tulang punggung pengobatan malaria di banyak negara.
Tokoh utamanya: Tu Youyou, apoteker-peneliti asal Ningbo, Tiongkok. Kita bahas pelan-pelan ya, termasuk bagian yang masih diperdebatkan, karena kisah ini bukan cuma soal satu orang jenius.
Kenapa kisah ini menarik buat kita
Malaria itu penyakit yang dekat dengan kita. Indonesia punya daerah endemis, terutama di bagian timur. Penyebabnya parasit bernama Plasmodium yang dibawa nyamuk. Di akhir 1960-an, parasit ini mulai kebal terhadap klorokuin, obat andalan saat itu. Artinya, obatnya makin nggak mempan.
Tu Youyou tidak punya gelar doktor, tidak punya gelar kedokteran, dan tidak pernah belajar di luar negeri. Meski begitu, Nobel Prize mencatat ia jadi ilmuwan daratan Tiongkok pertama yang memenangkan Nobel di bidang sains. Latar belakang itu bikin kisahnya terasa lebih menarik: terobosan nggak selalu lahir dari jalur yang paling mentereng.
Latar singkat: dari sakit TBC ke farmakologi
Tu lahir di Ningbo pada 30 Desember 1930. Di usia 16 tahun, ia harus berhenti sekolah sekitar dua tahun karena tuberkulosis.
Ia belajar farmasi di Beijing Medical College dan lulus tahun 1955. Setelah itu ia bekerja di Academy of Traditional Chinese Medicine di Beijing, dan menekuni riset obat herbal sejak awal kariernya. Pada 1959 sampai 1962 ia juga mengikuti kursus penuh pengobatan tradisional Tiongkok. Kombinasi dua dunia ini, farmasi modern dan pengobatan tradisional, akan jadi kunci berikutnya.
Proyek 523: riset rahasia untuk melawan malaria
Tanggal 23 Mei 1967, sebuah proyek rahasia berskala nasional dimulai. Namanya Proyek 523, diambil dari tanggal peluncurannya. Proyek ini dikaitkan dengan kebutuhan mencari obat malaria yang kebal klorokuin, termasuk permintaan bantuan dari Vietnam yang sedang berperang. Banyak institusi ikut terlibat, termasuk unsur militer.
Awal 1969, Tu (saat itu 39 tahun) ditunjuk memimpin kelompok riset di institutnya. Tugas pertamanya bukan di lab, tapi turun ke Pulau Hainan yang sedang diserang wabah malaria untuk melihat langsung dampak penyakitnya. Menurut Nobel Prize, ia meninggalkan putrinya yang berumur satu tahun pada orang tuanya dan anaknya yang berumur empat tahun di tempat penitipan, dan tidak bertemu mereka selama tiga tahun. Ia sendiri mengatakan pekerjaan itu prioritas utama sehingga ia rela mengorbankan kehidupan pribadinya.
Kita perlu hati-hati di sini. Cerita ini menyentuh, tapi jangan dibaca sebagai "begitulah cara jadi ilmuwan hebat". Pengorbanan seperti ini dipengaruhi konteks zamannya, dan bukan sesuatu yang patut dijadikan standar.
Jalan buntu, lalu menengok resep kuno
Sebelum tim Tu menemukan titik terang, lebih dari 240.000 senyawa sudah diuji tanpa hasil, menurut Nobel Prize. Kelompok Tu mengambil jalur lain: menyisir literatur pengobatan tradisional.
Menurut ulasan dua peneliti NIAID yang menelusuri catatan Proyek 523, kelompoknya membaca lebih dari 2.000 resep, memilih 640 untuk dievaluasi dalam tiga bulan, dan menguji ekstrak lebih dari 100 tanaman pada parasit malaria tikus. Sementara itu, Lasker Foundation mencatat bahwa sampai 1971 tim sudah membuat 380 ekstrak dari 200 jenis herba. Angkanya berbeda antar sumber, kemungkinan karena cara menghitungnya berbeda, tapi gambaran besarnya sama: kerja penyaringan yang sangat melelahkan.
Salah satu kandidatnya adalah qinghao, tanaman yang dikenal sebagai sweet wormwood (Artemisia annua). Hasil awalnya menjanjikan tapi nggak konsisten. Menurut ulasan NIAID, ekstrak awal menunjukkan penghambatan parasit sekitar 68 persen, tapi pengulangan berikutnya cuma 12 sampai 40 persen. Kalau kamu ada di posisi itu, mungkin sudah tergoda untuk mencoret tanaman ini dari daftar.
Titik balik: panas mungkin merusak zat aktifnya
Di sinilah teks lama berperan. Tu menemukan referensi tentang qinghao dalam karya Ge Hong, A Handbook of Prescriptions for Emergencies, yang berasal dari era Dinasti Jin Timur (sekitar abad ke-4; sumber berbeda menyebut kisaran 317 sampai 420 Masehi). Menurut ulasan NIAID, teks itu memberi dua petunjuk: persiapan dengan cara dingin mungkin menghindari kerusakan akibat panas, dan daun mungkin bagian paling aktif.
Dugaannya: proses perebusan atau ekstraksi dengan etanol panas bisa merusak senyawa aktifnya. Jadi Tu berganti ke eter, pelarut yang titik didihnya jauh lebih rendah (sekitar 35 °C, dibanding etanol sekitar 78 °C; satu sumber mengutip ingatan rekan kerja yang menyebut sekitar 60 °C, jadi angka persisnya masih bisa berbeda).
Hasilnya: pada 4 Oktober 1971, sampel bernomor 191 menunjukkan aktivitas 100 persen terhadap malaria pada tikus dan monyet, menurut ulasan NIAID. Menurut Lasker Foundation, tim juga membuang fraksi asam dari ekstrak dan menyesuaikan waktu panen tanaman.
Istilah teknis sedikit: ekstraksi itu proses "menarik" zat tertentu dari bahan alam menggunakan pelarut. Pelarut yang berbeda menarik zat yang berbeda, dan sebagian zat rusak kalau kena panas. Perubahan kecil di langkah ini yang bikin perbedaan besar.
Dari tikus ke manusia
Tanggal 8 Maret 1972, Tu mempresentasikan hasilnya di pertemuan Proyek 523 di Nanjing. Menurut ulasan NIAID, presentasi inilah yang memicu upaya lebih luas untuk meneliti senyawa tersebut.
Tahap berikutnya soal keselamatan. Menurut Nobel Prize, Tu dan dua rekannya mencoba zat itu pada diri sendiri lebih dulu, lalu pada 21 pasien di Hainan (ulasan NIAID menempatkan uji ini pada Agustus 1972). Semuanya pulih. Ini cerita yang mudah dibingkai heroik, tapi perlu dicatat: uji coba yang sah di masa kini mengikuti aturan etik yang jauh lebih ketat, dan kita nggak perlu menirunya.
Pada 8 November 1972, tim berhasil memisahkan senyawa murni berbentuk kristal putih yang dinamai qinghaosu (kini dikenal sebagai artemisinin). Untuk tanggal ini, ada catatan kecil: Lasker Foundation mencatat satu presentasi yang menempatkan kristal artemisinin pada 1977, jadi urutan detail di tahap ini masih bisa diperdebatkan.
Bukan kerja satu orang
Ini bagian penting yang sering hilang dari versi singkat. Proyek 523 adalah usaha kolektif lintas lembaga:
- Penentuan struktur kimia dan sintesis: ulasan NIAID menyebut ahli kimia Zhou Weishan berperan kunci, dengan Tu mengoordinasi ilmuwan di Beijing dan Shanghai yang memakai kristal itu untuk analisis.
- Perbaikan ekstraksi dan uji klinis: Lasker Foundation mencatat banyak ilmuwan dari institut lain di Tiongkok ikut berkontribusi.
- Terapi kombinasi: Guoqiao Li dari Guangzhou College of Traditional Chinese Medicine menjalankan uji klinis sejak pertengahan 1970-an, dan Keith Arnold dari Roche Far East Research Foundation di Hong Kong bergabung dengan kerjanya pada 1980.
- Turunan obat: dihidroartemisinin, turunan yang dibuat pada 1973, dilaporkan lebih mudah larut dalam air dan lebih manjur.
Wajar kalau muncul pertanyaan: siapa yang pantas disebut penemu? Pada 2011, saat Tu menerima Lasker Award, jurnal Science menerbitkan artikel berjudul "Lasker Award Rekindles Debate Over Artemisinin's Discovery". Para penulis ulasan NIAID berpendapat presentasi Tu pada Maret 1972 adalah langkah penentu yang membuka jalan bagi kerja berikutnya. Pihak lain menekankan bahwa proyek ini kerja tim besar. Dua pandangan itu nggak harus saling meniadakan, dan kita sebagai pembaca bisa memegang keduanya sekaligus.
Dampaknya: dari lab ke seluruh dunia
Artemisinin bekerja cepat membunuh parasit pada tahap awal perkembangannya. Menurut keterangan Komite Nobel, dalam bentuk terapi kombinasi obat ini diperkirakan menurunkan angka kematian malaria lebih dari 20 persen secara keseluruhan dan lebih dari 30 persen pada anak-anak. Di Afrika saja, itu berarti lebih dari 100.000 nyawa terselamatkan tiap tahun (angka ini dari pernyataan Komite tahun 2015).
Tahun 2001, WHO menyepakati kerja sama dengan Novartis untuk obat kombinasi Coartem. Tahun 2006, WHO menganjurkan agar artemisinin tidak dipakai sebagai obat tunggal, supaya parasit tidak cepat kebal lagi. Jadi pelajarannya bukan cuma "temukan obatnya", tapi juga "pakai obatnya dengan bijak".
Pengakuan untuk Tu datang berlapis: Penghargaan Lasker-DeBakey 2011, Nobel Kedokteran 2015 (dibagi dengan William C. Campbell dan Satoshi Ōmura), dan pada April 2025 ia terpilih sebagai anggota internasional US National Academy of Sciences. Saat itu China Daily menyebut usianya 95 tahun.
Satu kalimat dari Tu sendiri
Di acara penerimaan Lasker, menurut Lasker Foundation, Tu menyebut penemuan qinghaosu sebagai hadiah bagi umat manusia dari pengobatan tradisional Tiongkok. Ia juga mengajak kolaborasi global dalam meneliti pengobatan tradisional.
Kalimat itu bisa kita baca dengan kacamata kritis. Pengobatan tradisional bukan otomatis ampuh; dari ribuan resep dan ratusan ekstrak, hanya sedikit kandidat yang bertahan. Yang berhasil lolos karena disaring dengan metode ilmiah: uji pada hewan, uji klinis, pemisahan senyawa murni. Perpaduan itu yang membuat kisah ini istimewa.
Pelajaran buat kita
Pertama, jalan keluar kadang ada di tempat yang sudah lama ada, tapi baru berguna kalau diuji dengan benar. Teks Ge Hong sudah ada belasan abad, tapi baru menjadi obat setelah ada yang mengubah cara ekstraksi dan menguji hasilnya.
Kedua, penemuan besar jarang punya satu nama saja. Tu punya peran sentral, dan di sekelilingnya ada kimiawan, dokter, pasien, dan banyak lembaga. Mengakui itu bukan mengecilkan Tu; justru menunjukkan seberapa besar kerja yang ia pimpin.
Ketiga, kalau kamu lagi mentok di proyek apa pun, coba tanya: apa asumsi dasarnya? Bagi Tu, asumsinya soal panas. Satu perubahan kecil di situ membuka seluruh pintu.








.webp%3Fv%3D1792570478588&w=640&q=75)