Chiune Sugihara: Diplomat Jepang yang Menulis Visa Sampai Tangannya Kram, Padahal Atasannya Bilang Berhenti
Musim panas 1940, ratusan pengungsi berkerumun di depan konsulat Jepang di Kaunas, Lithuania. Satu diplomat memilih menulis visa transit sambil melawan perintah Tokyo. Kisah Chiune Sugihara: latar hidupnya, peran Jan Zwartendijk, angka yang sering simpang siur, dan harga yang ia bayar setelah perang.
Bayangkan kamu bekerja sendirian di sebuah kantor konsulat kecil. Di luar, ratusan orang berdiri menunggu sejak pagi. Mereka bukan mau liburan: mereka orang-orang yang kehilangan negara karena perang dan butuh satu lembar kertas supaya bisa pergi. Atasanmu di ibu kota sudah dua kali bilang jangan. Apa yang kamu lakukan?
Itulah posisi Chiune Sugihara, konsul Jepang di Kaunas, Lithuania, pada Juli 1940. Kisahnya sering diringkas jadi "diplomat baik hati yang menyelamatkan ribuan nyawa". Ringkasan itu nggak salah, tapi kehilangan banyak lapisan: siapa saja yang ikut berperan, apa yang sebenarnya ia langgar, berapa angka yang bisa dipegang, dan apa yang terjadi padanya sesudah itu. Kita bahas pelan-pelan.
Anak yang gagal jadi dokter, lalu nyasar jadi ahli Rusia
Sugihara lahir 1 Januari 1900 di Prefektur Gifu, Jepang. Menurut Smithsonian Magazine, ayahnya ingin ia jadi dokter, tapi ia nggak lulus ujian masuk dan akhirnya kuliah di universitas di Tokyo. Jalan hidupnya berbelok pada 1919, ketika Kementerian Luar Negeri Jepang mengirimnya ke Harbin, Manchuria, untuk belajar bahasa.
Di sana ia menguasai bahasa Rusia dari para emigran Rusia dan akhirnya jadi diplomat. Totalnya ia menghabiskan sekitar 16 tahun di Manchuria. Ia ikut menegosiasikan pembelian jalur kereta api Manchuria Utara dari Uni Soviet pada 1932, saat Jepang sudah mendirikan negara boneka Manchukuo.
Tapi ia nggak nyaman dengan perilaku tentara Jepang di sana. Menurut Smithsonian, ia membenci kebrutalan mereka dan meminta dipindahkan ke Tokyo. Pihak Soviet lalu menolak visanya ke Moskow, yang belakangan ia curigai sebagai balasan. Ia kemudian bertugas sekitar dua tahun di Helsinki, tempat dua putranya lahir, sebelum dikirim ke Lithuania pada November 1939 (tanggal dari USHMM). Ia diplomat Jepang pertama yang ditempatkan di sana.
Tugas utamanya bukan soal kemanusiaan. Ia dikirim untuk memantau pergerakan pasukan Soviet dan Jerman di kawasan Baltik. Jadi ini orang intelijen-diplomatik biasa, bukan "pahlawan yang sudah direncanakan".
Kaunas, musim panas 1940: dua pintu yang sama-sama nyaris tertutup
Pada 1939–1940, Lithuania jadi tempat menumpuk pengungsi, banyak di antaranya orang Yahudi Polandia yang kabur dari invasi Jerman. Smithsonian mencatat populasi Yahudi di Lithuania naik dari perkiraan sekitar 160.000 sebelum perang menjadi sekitar 250.000 pada 1941. Pada Juni 1940 pasukan Soviet menduduki Lithuania, dan pintu keluar menyempit drastis.
Masalahnya, mau lewat mana? Jalur yang masih mungkin adalah ke timur: naik kereta Trans-Siberia ke Vladivostok, lalu ke Jepang. Untuk itu orang butuh visa transit Jepang, dan syarat visa transit Jepang waktu itu ketat. Menurut Wikipedia, penerima harus sudah menyelesaikan prosedur imigrasi, punya cukup uang, dan punya tujuan akhir. Hampir semua pengungsi nggak memenuhi syarat itu.
Peran yang sering terlewat: Jan Zwartendijk
Di titik inilah muncul tokoh lain yang sama pentingnya: Jan Zwartendijk, konsul kehormatan Belanda di Kaunas yang sebenarnya pebisnis, bukan diplomat karier. Berdasarkan penelusuran Wikipedia, duta besar Belanda L. P. J. de Dekker mengizinkan Zwartendijk menerbitkan catatan di paspor bahwa untuk masuk Curaçao (koloni Belanda di Karibia) nggak diperlukan visa. Syarat izin gubernur untuk mendarat memang tetap ada, tapi dihilangkan dari tulisan di dokumen itu.
Catatan itu praktis nggak menjamin siapa pun benar-benar bisa masuk Curaçao. Smithsonian bahkan menulis Zwartendijk sendiri ragu dokumen itu akan menyelamatkan siapa pun. Tapi bagi birokrasi Jepang, selembar catatan itu memberi sesuatu yang tadinya nggak ada: "tujuan akhir" di atas kertas.
Jadi pembagian kerjanya begini: Zwartendijk memberi alasan di atas kertas, Sugihara memberi visa transit, dan para pengungsi sendiri, termasuk perwakilan mereka seperti Zorach Warhaftig, yang mengorganisasi dan mendatangi konsulat. Menurut Smithsonian, Sugihara bahkan nggak pernah bertemu langsung dengan perwakilan Belanda. Kalau kita hanya menyebut satu nama, kita menghapus dua pihak lainnya.
18 Juli 1940: kerumunan di depan konsulat
Pada 18 Juli 1940, orang-orang berkerumun di depan konsulat Jepang. Sugihara meminta lima perwakilan masuk, termasuk Warhaftig, dan mengatakan ia butuh izin Tokyo untuk menerbitkan visa dalam jumlah sebesar itu.
Tokyo menolak, dua kali menurut Smithsonian, dengan alasan keamanan publik. Wikipedia mencatat jawabannya bahkan lebih tegas: setiap pemegang visa harus punya visa negara tujuan berikutnya tanpa kecuali. Smithsonian mengaitkan sikap itu dengan perundingan aliansi Jepang dengan Jerman dan Italia yang sedang berlangsung.
Sugihara sempat berargumen soal alasan kemanusiaan. Setelah gagal, ia memutuskan menerbitkan visa tetap. Targetnya sekitar 200–300 visa per hari, dan ia menulis sampai tangannya kram. Menurut USHMM, ia juga sempat memberi visa kepada pengungsi yang sama sekali tidak punya dokumen perjalanan sebelum menutup konsulatnya.
Ada satu detail menarik dari USHMM: ketika Tokyo mengirim telegram yang mengingatkan prosedur (pada saat itu ia sudah menerbitkan sekitar 1.800 visa), ia membalas dengan mengakui telah memberi visa kepada orang yang pengurusannya belum lengkap. Alasannya sederhana: Jepang adalah satu-satunya rute transit yang tersisa. Tokyo kemudian menjawab bahwa Uni Soviet mewajibkan Jepang menghormati semua visa yang sudah terbit. Jadi yang terjadi bukan "ia melawan sistem sampai habis", tapi ia menciptakan fakta di lapangan, lalu sistem terpaksa menyesuaikan.
Kenapa ia melakukannya? Dalam catatan yang dikutip Wikipedia, ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa ia melakukannya "just because I have pity on the people". Itu kutipan yang dikaitkan dengan wawancara, jadi kita pegang sebagai pengakuan versi dia sendiri, bukan penjelasan lengkap tentang pikirannya.
Berapa banyak sebenarnya?
Di sinilah banyak cerita populer mulai kabur. Menurut USHMM, ketika Sugihara meninggalkan Lithuania ia telah menerbitkan visa untuk sekitar 2.140 orang, dengan sekitar 300 orang lagi tercakup (kebanyakan anak-anak). Smithsonian hanya menulis "lebih dari 2.000 visa", dan menegaskan jumlah orang yang akhirnya selamat nggak diketahui pasti, "kemungkinan di kisaran ribuan".
Alasannya masuk akal. Satu visa bisa dipakai satu keluarga penuh, dan sebagian visa lain tidak pernah dipakai. Jadi kalau kamu menemukan angka tunggal yang terdengar pasti, curigai dulu: angka yang kita punya adalah perkiraan, dan angkanya bervariasi tergantung cara menghitung.
Setelah Kaunas: perjalanan yang nggak berakhir manis
Soviet memerintahkan semua konsulat asing di Kaunas ditutup paling lambat 25 Agustus 1940. Sugihara dan keluarganya pergi pada awal September 1940, menuju Praha, lalu Bucharest. Smithsonian mencatat kesehatannya buruk setelah semua itu.
Para pengungsi yang berhasil sampai di Jepang pun belum aman sepenuhnya. Banyak dari mereka tiba di Kobe. Sebelum Perang Pasifik meletus Desember 1941, pemerintah Jepang mendorong sebagian besar dari mereka melanjutkan ke Shanghai. Salah satu hasil konkret dari visa Sugihara, menurut Smithsonian, adalah bahwa Mir Yeshiva (sekolah agama Yahudi) bisa terus berjalan di Shanghai berkat visa untuk para muridnya.
Untuk Sugihara sendiri, tahun-tahun berikutnya berat. Pada 1944 pasukan Soviet menahannya di Balkan bersama diplomat negara musuh lain. USHMM menyebut ia dan keluarganya ditahan sekitar tiga tahun, sementara Smithsonian menulis lebih dari satu tahun di Bucharest, jadi lamanya penahanan berbeda antarsumber. Keluarganya baru kembali ke Jepang pada 1947. Pada tahun yang sama putra ketiganya, Haruki, yang lahir di Kaunas pada April 1940, meninggal karena leukemia.
Dipecat? Atau mengundurkan diri?
Pada 1947 Kementerian Luar Negeri meminta Sugihara mengundurkan diri. Wikipedia mencatat alasan resminya adalah pengurangan staf, sementara sebagian sumber, termasuk istrinya Yukiko, menyebut ia dibilang diberhentikan karena "insiden" di Lithuania. Smithsonian menulis putranya meyakini itu terkait pembangkangan perintah visa. Jadi penyebab pastinya belum bisa dipastikan lewat sumber yang kita punya; yang jelas, kariernya sebagai diplomat berakhir.
Setelah itu ia bekerja serabutan: di pelabuhan Yokohama, membuka toko, menerjemahkan bahasa Rusia untuk NHK, dan bekerja untuk perusahaan dagang di Moskow dari awal 1960-an sampai pertengahan 1970-an.
Pengakuan yang datang telat
Pada 1968, Yehoshua Nishri, salah satu penerima visanya yang kini bekerja di Kedutaan Israel di Tokyo, berhasil menemukannya. Dari situ Sugihara baru tahu bahwa banyak orang yang ia tolong ternyata selamat. Tahun 1969 ia mengunjungi Israel.
Pada 1984 Yad Vashem menganugerahkan gelar Righteous Among the Nations kepadanya. Menurut Smithsonian, ia satu-satunya warga Jepang yang pernah menerima gelar itu. Ia wafat pada 31 Juli 1986 di Kamakura. Pemerintah Jepang sendiri baru memulihkan nama baiknya secara resmi pada 10 Oktober 2000; pada 1991 seorang pejabat Kementerian Luar Negeri, Muneo Suzuki, sudah lebih dulu meminta maaf kepada keluarganya atas perlakuan tidak adil selama puluhan tahun (Wikipedia).
Apa yang bisa kita ambil
Pelajaran paling jujur dari kisah ini bukan "jadilah pahlawan sendirian". Sugihara bisa bertindak karena ada Zwartendijk yang menyediakan celah administratif, ada perwakilan pengungsi yang mengatur antrean dan permintaan, dan ada Moskow yang secara praktis memaksa Tokyo menghormati visa yang sudah terbit. Satu tanda tangan baru berarti kalau ada sistem kecil di sekelilingnya.
Dan ada sisi yang kurang nyaman: keberanian semacam ini sering dibayar mahal secara pribadi, dan pengakuannya bisa datang puluhan tahun kemudian. Kalau suatu hari kamu berada di posisi yang butuh keputusan serupa, pertanyaan yang lebih berguna mungkin bukan "apa aku cukup berani?", tapi "siapa lagi yang bisa kuajak bekerja, dan apa yang sudah kusiapkan kalau aku yang menanggung akibatnya?"
Sumber
- Chiune (Sempo) Sugihara, Holocaust Encyclopedia (USHMM)
- This Heroic Japanese Diplomat Defied His Government to Save Thousands of Jewish Refugees from the Holocaust, Smithsonian Magazine
- Chiune Sugihara, Wikipedia
Catatan gambar: halaman Wikimedia Commons tidak bisa diakses saat artikel ini ditulis, jadi lisensi foto tidak dapat diverifikasi dan artikel diterbitkan tanpa gambar.








.webp%3Fv%3D1792570478588&w=640&q=75)